Jumat, 15 Maret 2013

PEREMPUAN KORBAN ATAU ALAT DALAM BUDAYA KECANTIKAN ALA KAPITALISME


Dalam sebuah acara diskusi tentang keperempuanan di salah satu TV swasta saya tertarik pada hasil survey yang didapatkan tentang peran wanita di media, di mana di situ dijelaskan bahwa lebih kurang 80 % dari semua majalah yang dipamerkan ber-cover gadis atau perempuan cantik. diantara majalah yang ber-cover gadis atau perempuan cantik tersebut, lebih kurang 60 % berbusana atau berpose hangat. sementara diantara 20 % majalah yang tidak ber-cover gadis atau perempuan cantik 10 % ber-cover barang mewah. demikian juga tayangan program di televisi kita, apakah itu penyiar, penyanyi , bintang sinetron atau bintang iklan, sekurang-kurangnya 60% menggunakan perempuan cantik khusus dengan program iklan biasanya memiliki kecenderungan mengeksplotir segi-segi seksual yang menjadi bintangnya.
Dari prolog singkat di atas maka ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya yaitu kata cantik. sehingga menimbulkan sebuah tanda besar di benakku yang mungkin bisa jadi pertanyaan ini juga biasa dilontarkan oleh sebagian orang baik itu anak-anak, remaja, orang dewasa, maupun orang tua sekalipun  biasa mempertanyakannya, bahwa sesungguhnya apa yang dimaksud dengan kata cantik tersebut? apakah ia sesuatu yang sifatnya alamiah ataukah yang dimaksud dengan cantik merupakan konstruk kapitalisme yang sifatnya mampu mendatangkan laba (keuntungan).
Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita berangkat dari pendapat dari Andre Syahreza dalam tulisannya tentang revolusi kecantikan dimana ia berpendapat bahwa “Kecantikan yang berlaku di masyarakat adalah sebuah produk konspirasi kapitalistik,  dalam hal ini merupakan suatu upaya dominasi kekuatan raksasa yang memaksakan suatu paradigma kecantikan yang mereka khayalkan tersendiri”.Nah dari pandangan Andre Syahreza diatas maka dapat kita ketahui bahwa dinamika konstruk kecantikan yang bermakna lebih satu diatas merupakan konstruk nalar kemanusiaan.Ketika kecantikan dikonstruk maka ia rentang dengan perubahan apakah itu perubahan paradigma, simbol, warna dan gaya. Cantik adalah sebuah kata sifat yang melekat pada setiap insan.Namun pemaknaan dari kecantikan ini berubah seiring dengan perubahan zaman. kecantikan yang dulunya punya makna kata sifat sekarang ini sudah berubah dan bukan sekedar kata sifat lagi melainkan bahkan sudah menjadi pandangan yang lebih ekstrim lagi yaitu bisnis, namun ironisnya kecantikan yang merupakan hasil konstruk kekuasaan ini telah merasuk dalam nalar berfikir kita, sehingga konstruk kecantikan adalah apa yang telah kapitalis konstruk, senada dengan pandangan Lacan dalam bukunya yang berjudul the language of self mengatakan “Bahwa sesungguhnya kesadaran ego itu terbentuk melalaui permainan dari simbol-simbol, dan keadaan disekeliling kita.”dan ini yang mampu dibaca oleh kaum kapitalis sehingga Penawaran konsep kecantikan oleh kaum industrialis tiada lain sebagai sebuah strategi pengaruh dan peubah paradigma kita tentang dunia kecantikan yang mungkin kita tidak sadar bahwa konsep mereka adalah konsep meraih untung di balik strategi, ketika pengaruh konsep telah terpengaruh dalam budaya kita maka kaum industrialis menciptakan produk yang kemudian mereka lempar ke pasar melalui media TV yang diiklankan secara agresif ,dan yang paling menjadi korban dari pelecehan martabat tersebut adalah kaum peempuan,perempuan bukan saja dimanipulasi oleh media sekedar bahan penghias ,apakah itu sebagai cover majallah atau program tv.tetapi mereka telah diperangkap oleh satu gambaran bahwa jika mereka dapat secantik ,seindah ,memiliki busana ,dan alat rias seperti dalam cover majalah atau program tv tersebut, barulah mereka disebut sebagai perempuan idaman. Susahnya ,perempuan yang di pasang sebagai cocer majalah atau bintang tv adalah mereka yang berdasar ukuran selera tertentu secara fisik memang cantik . tak heran bahwa kemudian produk yang dipakainya  banyak diminati oleh perempuan lain (penonton/pembaca) yang berandai andai apabila memakai produk yang sama dapat secantik cover-girl atau bintang tv tersebut.
Bagaimana nasib perempuan yang tidak memiliki kecantikan secara fisik dan tidak pula memiliki kemampuan material yang memadai? Media menganggap mereka tidak berguna, tidak dikehendaki dan demikian tidak pula tidak memiliki kemungkinan untuk mencintai atau dicintai. Ini dapat menjadikan wanita yang berkurangan tersebut membenci dirinya sendiri ,kehilanagan kepercayaan dan harga diri dari lain pihak , perempuan yang memiliki apa yang digambarkan sebagai perempuan idaman bukan berarti akan memperoleh kebahagian ,melainkan biasanya dalam arti tertentu menjadi objek dagangan untuk mengejar gambaran gaya hidup yang ditampilkan dalam media sehingga perempuan hanya dimanfaatkan sekedar sebagai alat untuk menciptkan pasar dan mengeruk keuntungan.
Cantik alami adalah dambaan setiap manusia, khususnya kaum perempuan (hawa) . Namun kecantikan alami dalam era modern sekarang ini perlu untuk dicermati secara kritis. Wacana “cantik alami” bisa saja adalah wacana yang merupakan eksploitasi bisnis yang bakal dapat meraup keuntungan dari diri kita. Orientasi kecantikan sangat erat kaitannya dengan kecantikan, hal ini termanisfestasi dalam perdagangan iklan-iklan dan alat-alat kecantikan yang ada dipasaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar