Jumat, 15 Maret 2013

S K R I P S I



KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penulis khaturkan pada Allah SWT, dengan segala limpahan rahmat dan karunianya kita dapat menjalankan segala aktifitas dan atas ijinnya pulalah kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara kehidupan dengan roh spiritual manifestasI ilahiah. Salam dan salawat kita curahkan kepada Nabiullah Muhammad SAW yang telah meniupkan roh kebenaran dan mengutuk segala bentuk kezaliman dan penindasan dimuka bumi ini.
Sembah sujud ananda kepada Ayahanda Baharuddin dan Ibunda Banong yang telah berkorban dan  membimbing dengan segala kasih sayang yang tak dapat ditandingi.   Dan kepada adik – adik yang selalu menjadi inspirasi dengan segala canda dan tawa yang membuat penulis untuk tetap selalu tersenyum. Terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang ikhlas ayahanda dan ibunda tercinta.
Pada kesempatan yang bermakna ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam – dalamnya kepada :
1.    Bapak Drs H.A.M Aras Mahmud selaku Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gema Insan Akademik Makassar
2.    Bapak H. Sumardin Makka, S.KM, M.Kes selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gema Insan Akademik Makassar
3.    Pengelola dan Seluruh civitas  Akademik STIKES GIA Makassar.
4.    Tim Pembimbing, Ibu Hj. Hasnah Nossi, S.Kep, Ns. selaku pembimbing pertama dan bapak Musmulyadi, S.Kp. selaku pembimbing kedua, yang dengan sabar dan ikhlas telah  menyumbangkan pikiran,gagasan, spirit, tenaga dan bahkan arahan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
5.    Para Penguji yang telah memberikan banyak masukan dan warna pengetahuan yang berbeda bagi penulis.
6.    Ibu Penasihat Akademik, Hj.Nurahaeni Rachim S.Kep,M.Kep yang selalu memberikan bimbingan dan mengajarkan etika yang baik kepada penulis.
7.    Para Dosen yang telah mentransformasikan pengetahuan demi tertatanya ilmu pengetahuan dan menjadi bekal bagi penulis.
8.    Lembaga Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) yang telah menorehkan kerangka epistemologi, idiologi dan teologi. Serta Komunitas Anak Rakyat ( KOAR ) yang mengajarkan tentang penderitaan dan pengorbanan.
9.    Kepada kawan – kawan yang menjadi teman berdiskusi terutama Baso Tony, Baso Witman, HoliL, Even Mendes, Main, Aldy, Addink, K. Yodang serta Firdaus Djalal yang rela melacurkan ide dan gagasanya demi sebuah Intelektualitas dan roh spiritualitas.
10. Saudara – saudaraku seperjuangan dan seiodiologi seluruh mahasiswa STIKES GIA yang masih saja rela dirinya tetap dalam ketertindasannya.
11. Ustaz Ahmad Yoland, Master WUSHU perguruan bela diri Kungfu indonesia sulawesi-selatan cabang makassar atas motivasi dan bimbingan keislaman dan Tarbawaiyah jasmaniah
12. Kepada K. Irma S. Sos yang telah meminjamkan buku – bukunya sebagai landasan dan pijakan.
13. Rekan –rekan pondok ARMA ( Yodang S.Kep, Addin’k, Mimin, Mas Fahri(main), Aldy, Amire) yang selalu memberikan motivasi kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
14. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu
Akhir kata penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan namun ini merupakan awal untuk menuju kesempurnaan itu sendiri. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan yang diridhoi Allah SWT.
Makassar, Mei 2009  M         J.Awal 1430 H

MUHAMMAD RAIS                                                








DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ......................................................................................................       iv
ABSTRACT.....................................................................................................       v
KATA PENGANTAR ....................................................................................       vi
DAFTAR ISI .....................................................................................................     ix
DAFTAR TABEL ...........................................................................................       xi
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................      xii
Bab      I        PANDAHULUAN.........................................................................        1
A.    Latar Belakang.......................................................................        1
B.    Rumusan Masalah.................................................................        4
C.   Tujuan Penelitian...................................................................        4
D.   Manfaat Penelitian.................................................................        5
Bab      II       TINJAUAN PUSTAKA................................................................        6
A.    Tinjauan Tentang diabetes melitus........................................        6
B.    Konsep dasar Olahraga ........................................................      13
C.   Tinjauan Tentang faktor-faktor yang berhubungan
dengan ketaatan olaraga.......................................................      20
Bab      III      PELAKSANAAN PENELITIAN...................................................      29
A.    Kerangka konsep...................................................................      29
B.    Hipotesis penelitian................................................................     30
C.   Definisi Operasional...............................................................      30
D.   Desain penelitian....................................................................      31
E.    Populasi dan Sampel.............................................................      32
F.    Waktu dan Tempat Penelitian...............................................      33
G.   Instrumen Penelitian..............................................................      33
H.   Uji instrument.........................................................................      34
I.      Prosedur pengumpulan data.................................................      35
J.    Pengolahan data....................................................................      36
K.    Etika Penelitian......................................................................      38
Bab     IV     HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................      40
A.   Hasil Penelitian......................................................................      40
B.   Pembahasan..........................................................................      48
Bab      V      KESIMPULAN DAN SARAN......................................................      60
A.   Kesimpulan ...........................................................................      60
B.   Saran ....................................................................................      60
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................      61
LAMPIRAN.......................................................................................................      61











BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dengan kemajuan yang pesat dibidang pembangunan dan informasi serta teknologi menimbulkan dampak yang tidak sedikit, baik dampak positif maupun negatif terutama dibidang kesehatan. Disatu sisi masih menghadapi masalah penyakit infeksi dan disisi lain timbulnya penyakit degeneratif. Diantara penyakit degeneratif yang ada dimasyarakat dan memerlukan pelayanan adalah penyakit diabetes melitus (DM). Jumlah para penderita diabetes didunia maupun diindonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Meningkatnya kesejahteraan berpengaruh pada perubahan pola hidup, diperkirakan berhubungan dengan meningkatnya jumlah penderita diabetes melitus 1.
Diabetes merupakan suatu kelainan yang menahun dan akan berlangsung seumur hidup. Kasus diabetes yang terbanyak dijumpai adalah diabetes tipe-2 yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan berupa resistensi insulin yaitu sebanyak 90% dari kasus DM yang dulu dikenal sebagai NIDDM. Diabetes tipe-2 paling sering terjadi pada usia > 40 tahun dan kegemukan (obesitas) berhubungan dengan kondisi ini 2.  DM merupakan penyakit non menular dan herediter (ada faktor keturunan) dan juga tidak bisa disembuhkan hanya bisa dikendalikan. Pengendalian DM dengan cara perencanaan makan, keteraturan berolahraga, obat-obatan 3. latihan yang teratur merupakan komponen yang penting dalam pengobatan diabetes, sehingga perlu dibudayakan latihan jasmani yang teratur dalam kehidupan sehari-hari. selain itu tak kalah pentingnya adalah penyuluhan agar rencana penatalaksanaan tercapai 4.
Pasien diabetes dalam hal ini mempunyai peran terpenting dalam penanganan penyakitnya sehari-hari, dengan dukungan edukator, tenaga kesehatan lain, keluarga dan temannya. Karena diabetes merupakan suatu penyakit yang memerlukan penanganan secara mandiri, pasien diabetes harus mempunyai pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk dapat menyusuaikan dirinya dengan penatalaksanaan dengan diabetes dalam kehidupan sehari-hari 5. partisipasi dalam kelompok-kelompok pendukung sangat dianjurkan bagi pasien diabetes baik yang telah lama maupun yang baru menderita diabetes. Dukungan yang diberikan melalui partisipasi dalam kelompok pendukung dapat membantu pasien beserta keluarganya untuk lebih memahami penyakit diabetes serta penatalaksanaannya dan dapat meningkatkan kepatuhan mereka terhadap rencana penatalaksanaan tersebut 6.
Insiden diabetes melitus pada populasi manusia telah mencapai tingkat epidemik diseluruh dunia, dan insiden ini meningkat dengan pesat. Pada tahun 2000, diperkirakan terdapat 150 juta kasus diseluruh dunia, dan angka ini diperkirakan meningkat menjadi 221 juta pada tahu 2010. 90% kasus yang ada kini adalah diabetes Tipe 2, dan sebagian besar peningkatan akan terjadi pada tipe 2, sejajar dengan peningkatan obesitas 7.
Dari berbagai penelitian epidemiologis di indonesia, terdapat peningkatan prevalensi dari 1,5-2,3% menjadi 5,7% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, dan bahkan suatu penelitian dimanado dan depok mendapatkan angka prevalensi sebesar 6,1% dan 12,8%. Melihat pola pertambahan penduduk saat ini, diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada sejumlah 178 juta penduduk berusia diatas 20 tahun, dan dengan asumsi prevalensi DM sebesar 2% akan didapatkan 3,56% juta penyandang DM 6.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan pada pengobatan yang bersifat kronik, pada umunya rendah. Penelitian terhadap penyandang diabetes, mendapatkan 80% diantaranya menyuntik insulin dengan cara yang tidak tepat, 58% memakai dosis yang salah, dan 75% tidak mengikuti diet yang dianjurkan serta sekitar 55% tidak melakukan olahraga secara teratur. Ketidakpatuhan ini merupakan salah satu hambatan untuk tercapainya tujuan pengobatan. Untuk mengatasi ketidakpatuhan tersebut, penyuluhan bagi penyandang diabetes mutlak diperlukan 6.
Rumah sakit umum Labuang Baji Makassar sebagai rujukan pelayanan kesehatan diwilayah Sulawesi Selatan dan sangat mempunyai peranan penting dalam menangani berbagai penyakit yang ada termasuk diabetes melitus. Dari tahun 2006 yang menjalani rawat jalan untuk DM tipe 2 dengan jumlah kunjungan sebanyak 1587 dengan kasus baru sejumlah 148, tahun 2007 dengan jumlah kunjungan sebanyak 84 dengan jumlah kasus baru 38, sedangkan pada tahun 2008 mulai dari bulan Januari sampai Mei jumlah kunjungan berkisar 47 8.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Faktor –faktor yang berpengaruh terhadap ketaatan olahraga pada penderita diabetes melitus tipe 2. 
B.   Rumusan Masalah
Dengan merujuk pada latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah Apakah faktor penyuluhan, dukungan keluarga, pengetahuan dan motivasi mempunyai hubungan dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2 di Unit rawat jalan BPRSUD Labuang Baji Makassar
C.   Tujuan Penelitian
1.    Tujuan umum
Teridentifikasi Faktor-faktor yang berhubungan dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2 di Unit rawat jalan RSUD Labuang Baji makassar
2.    Tujuan Khusus
a.        Diketahui adanya hubungan penyuluhan dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2
b.        Diketahui adanya hubungan dukungan keluarga dengan ketaatan olahraga klien DM tipe 2
c.        Diketahui adanya hubungan pengetahuan dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2
d.        Diketahui adanya hubungan motivasi dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2
D.   Manfaat Penelitian
1.    Manfaat aplikatif
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan sebagai masukan bagi institusi kesehatan setempat dalam rangka meningkatkan status kesehatan khususnya tentang pentingnya ketaatan melakukan olahrag pada penderitan DM tipe 2.
2.    Manfaat keilmuan
Penelitian diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi bahan bacaan tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ketaatan berolahraga pada penderita  DM tipe 2.
3.    Manfaat metodologi
penelitian ini diharapkan dapaqt digunakan untuk pengembangan penelitian lebih lanjut dan kepda yang berminat untuk mengembangkan penelitian ini dalam lingkup yang sama.
4.    Manfaat bagi penelti
Penelitian ini diharapakan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti khususnya menjadi data yang dapat membantu para tenaga kesehatan/keperawatan untuk memberikan pelayanan lebih luas atau optimal pada klien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Tinjauan Umum tentang Diabetes Melitus
1.    Pengertian
Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang ditandai oleh defisiensi insulin relatif atau absolut, yang menyebabkan intoleransi glukosa 9.
 Orang mesir pada tahun 1552 SM telah mengenal penyakit ini yang ditandai dengan sering kencing dalam jumlah banyak (yang sering disebut poliuria), penurunan berat badan cepat, dan rasa nyeri. Kemudian pada tahun 400 SM, seorang penulis india, susrutha menamai penyakit ini dengan nama honey urine disease (penyakit kencing madu). Tahun 200 SM penyakit ini pertama kali disebut diabetes melitus (diabetes=mengalir terus; melitus=manis) oleh Aretaeus. Biasanya pasien minum terus dan banyak (polidipsi) yang kemudian mengalir terus-menerus menjadi air seni. 10
Diabetes melitus adalah kelainan metabolisme karbohidrat dimana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. DM adalah merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai . Penderita DM mempunyai resiko untuk menderita komplikasi yang spesifik akibat perjalanan penyakit ini, yaitu retinopati (bisa menyebabkan kebutaan), gangguan ginjal, neuropati, aterosclerosis, gangren dan penyakit arteri coronaria. 2
Diabetes melitus Tipe 2 adalah penyakit yang dikarakteristik oleh cacadnya pengeluaran insulin dari sel beta pangkreas dan adanya resistensi insulin pada jaringan perifer, yang mengakibatkan hiperglikemia yang jika dibiarkan tidak terkontrol, akan menyebabkan komplikasi pada pembuluh darah kecil dan besar dalam tubuh manusia, hipertensi, dislipidemia, hiperinsulinemia, dan kegemukan harus dikontrol selain gula darah
DM tipe 2 (DMTTI) memang merupakan penyakit yang umumnya kita kenal sebagai penyakit kencing manis atau DM. DMTTI adalah jenis DM yang paling banyak ditemukan, sekitar 90% lebih. Timbul makin sering setelah usia 40 tahun. 11 
2.    Tipe-tipe diabetes melitus
Ada beberapa tipe diabetes melitus yang berbeda, penyakit ini dibedakan berdasarkan penyebab, perjalanan klinik dan terapinya. Klasifikasi diabetes yang utama adalah :
·         Diabetes tipe 1 : diabetes tergantung insulin (insulin dependent  diabetes melitus <IDDM> )
·         Diabetes tipe 2 : diabetes melitus tidak bergantung insulin (non insulin dependent diabetes melitus <NIDDM> )
·         Diabetes melitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
·         Diabetes melitus gestasional (gestasional diabetes melitus <GDM> ) 
3.    Patofiologi DM tipe 2
Pada diabetes melitus  tipe 2 terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. 12
Penyebab diabetes melitus tipe 2 tampaknya berkaitan dengan kegemukan selain itu pengaruh genetik yang menentukan kemungkinan seseorang mengidap penyakit ini. Cukup kuat diperkirakan bahwa terdapat suatu sifat genetik yang belum teridentifikasi yang menyebabkan reseptor insulin atau perantara kedua, tidak dapat berespon secara adekuat terhadap insulin, juga terdapat kaitan genetik antara kegemukan dan ransangan berkepanjangan reseptor-reseptor insulin tersebut menyebabkan  jumlah reseptor insulin yang terdapat disel-sel. Hal ini disebut down regulation mungkin pula bahwa individu menderita diabetes melitus tipe 2 menghasilkan otot antibodi insulin yang berikatan dengan reseptor insulin, menghambat akses insulin kereseptor, tetapi tidak merangsang aktivitas pembawa. 13

4.    Manifestasi klinik DM tipe 2
Berbeda dengan tipe 1, DMTTI ini mempunyai gejala yang perlahan-lahan bahkan tidak disadari sehingga tak sengaja diperiksa kadar glukosa darah, misalnya saat proses recruitmen atau medical check up. Gejala yang mungkin timbul pada awal menderita hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) adalah cepat lelah, kondisi tidak fit/ merasa sakit, sering kencing, cepat haus, lapar terus, dan lain-lain. Jika glukosa darah sudah tumpah keair seni/kencing, biasanya bekas air seni yang tidak disiram akan bersemut
Gejala yang lain yang bisa menyertai adalah penurunan berat badan yang tiba-tiba, peningkatan nafsu makan, dan pandangan kabur. Juga kita mengalami luka baik dikulit maupun dimulut maka proses penyembuhannya menjadi sukar/lama. Sering mendapat infeksi saluarn kencing adalah tanda yang membawa penderita berobat kedokter. Khususnya pada kelamin wanita bisa terjadi gatal-gatal hingga keputihan. 10
5.    Uji Diagnostik
Keluhan dan gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl atau glukosa darah puasa ≥126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus. Bila hasil pemeriksaan glukosa darah meragukan, pemeriksaan TTGO diperlukan untuk memastikan diagnosis diabetes melitus. Untuk diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa darah 2 kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM pada hari yang lain atau TTGO yang abnormal. Konfirmasi tidak diperlukan pada keadaan khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik akut, seperti ketoasidosis, berat badan menurun cepat. 14
Menurut WHO tahun 1994, upaya pencegahan pada diabetes ada 3 jenis yaitu
a.        Pencegahan primer yaitu semua yang ditujukan untuk mencegah timbulnya hiperglikemia pada individu yang beresiko untuk jadi diabetes atau pada populasi umum.
b.        Pencegahan sekunder yaitu kegiatan menemukan diabetes melitus sedini mungkin, misalnya dengan tes penyaringan terutama pada populasi resiko tinggi, dengan demikian dapat dilakukan upaya-upaya untuk mencegah komplikasi atau kalaupun sudah ada komplikasi masih reversibel
c.        Pencegahan tersier yaitu semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan akibat koplikasi itu. DKA adalah masalah hidup (kasus darurat) yang disebabkan oleh defisiensi insulin relatif atau absolut. DKA terjadi pada pasien dengan IDDM (dikenal DM tipe 1) kondisi atau situasi yang diketahui mempercepat kekurangan insulin meliputi (1) DM tipe 1 yang tidak terdiagnosis, (2) ketidaksinambungan antara makanan dan insulin, (3) adolesen dan pubertas, (4) latihan pada diabetes yang tidak terkontrol, (5) stress yang berhubungan dengan penyakit, infeksi, trauma atau tekanan emosional.
6.    Penatalaksanaan
Sampai saat ini diabetes melitus masih belum dapat disembuhkan, akan tetapi dapat dikontrol sehingga orang yang mengalami DM diharapkan dapat hidup berdampingan secara damai dengan diabetes melitus. Secara umum tujuan pengelolaan DM adalah meningkatkan kualitas hidup klien diabetes melitus. Tujuan pengelolaan jangka pendeknya adalah menghilangkan keluhan dan tanda-tanda DM dan mempertahankan rasa nyaman dan sehat. Sedangkan dalam jangka panjang diharapkan agar klien diabetes tercegah dari komplikasi dan turunnya angka kematian dan kesakitan melalui pengelolaan DM secara holistic dan mengajrkan perubahan perilaku dan perawatan yang mandiri bagi klien diabetes melitus. 15
Pada waktu yang lampau, penaganan diabetes melitus sangat difokuskan kepada pemberian obat-obatan, namun belakangan diketahui bahwa motivasi daro klien DM sendiri untuk mengatasi penyakitnya sangat berperan dalam keberhasilan penanganan diabetes. Motivasi ini dapat ditumbuhkan jika klien memahami kondisi penyakitnya sehingga dapat berperan aktif dalam perawatannya. Oleh karena itu, prinsip penaganan diabetes melitus yang saat ini dikenal dengan pilar pengelolaan DM.
a.    Edukasi (pendidikan kesehatan)
Tujuan dari edukasi diabetes melitus adalah terjadinya perubahan perilaku pada klien sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam perawatannya, edukasi ini dapat diberikan  secara individu maupun kelompok, baik bagi klien  sendiri maupun keluarganya.
b.    Perencanaan makan (diet)
Kepatuhan jangka panjang terhadap perencanaan makan merupakan salah satu aspek yang paling menimbulkan tantangan dalam penatalaksanaan diabetes. Bagi pasien obesitas, tindakan membatasi kalori moderat mungkin lebih realistis. Bagi pasien yang berat badannya sudah turun, upaya mempertahankan berat badan sering lebih sulit dikerjakan
c.    Latihan jasmani
Latihan fisik atau olahraga terutama untuk pengidap diabetes tipe 2 adalah intervensi terapeutik ketiga untuk diabetes melitus. Olahraga digabung dengan pembatasan diet, akan mendorong penurunan berat badan dan dapat meningkatkan pemakaian glukosa darah turun, olahraga juga dapat meningkatkan kepekaan sel terhadap insulin. 16
Pada penyandang diabetes tipe 2 yang obesitas, latihan dan penatalaksanaan diet akan memperbaiki metabolisme glukosa serta meningkatkan penghilangan lemak tubuh. Latihan yang digabung dengan penurunan berat akan memperbaiki sensitivitas insulin dan menurunkan kebutuhan pasien akan insulin atau obat hiperglikemik oral. Kepada penderita DM harus dianjurkan untuk selalu latihan pada saat yang sama (sebaiknya ketika kadar glukosa darah mencapai puncaknya) dan intensitas yang sama tiap harinya. Latihan yang dilakukan setiap hari secara teratur lebih dianjurkan daripada latihan sporadik. 13
d.    Intervensi farmakologis
Dalam mengelola diabetes melitus langkah pertama yang harus dilakukan adalah pengelolaan non farmakologis, berupa perencanaan makan dan kegiatan jasmani. Baru kemudian kalau dengan langkah-langkah tersebut sasaran pengendalian diabetes yang ditentukan belum tercapai, dianjurkan dengan langkah-langkah berikut, yaitu penggunaan obat/pengelolaan farmakologis. Pada kebanyakan kasus umumnya dapat diterapkan langkah seperti tersebut diatas.

B.   Konsep Dasar  Tentang Olahraga
1.    Fisiologis/manfaat
Latihan jasmani merupakan bagian dari kehidupan anak remaja dan dewasa. Pada beberapa penelitian terlihat bahwa latihan jasmani dapat membantu kerja metabolisme tubuh sehingga dapat mengurangi kebutuhan insulin. Pada perinsipnya olahraga pada penderita diabetes melitus tak berbeda dengan orang yang sehat juga antara penderita baru ataupun lama. Olahraga itu terutama untuk membakar kalori tubuh sehingga glukosa dalam darah bisa terpakai untuk energi, dengan demikian kadar gulanya bisa turun 6. Energi yang dibutuhkan pada waktu berolahraga terutama berasal dari glukosa dan asam lemak bebas. Pada awal kegiatan olahraga kedua bahan tersebut merupakan sumber yang utama, namun pemakaian glukosa pada tingkat ini lebih cepat. Energi pada awal berolahraga berasal dari cadangan ATP-PC otot, setelah itu didapatkan dari cadangan glikogen otot, selanjutnya barulah digunakan glukosa. Bila olahraga berlangsung terus maka energi diperoleh dari glukosa yang didapatkan dari pemecahan simpanan glikogen hepar (glikogenesis) 7
Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan berolah raga. Latihan dengan cara melawan tahanan (resistance training) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan demikian menambah laju metabolisme istirahat (resting metabolic rate). Semua efek ini sangat bermanfaat pada diabetes karena dapat menurunkan berat badan 10.
Ambilan glukosa oleh jaringan otot pada keadaan istrahat membutuhkan insulin, karena itu disebut sebagai jaringan insulin-dependent. Sedangkan pada otot yang aktif, walaupun kebutuhan otot terhadap glukosa meningkat, tidak disertai peningkatan kadar insulin. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya kepekaan reseptor insulin diotot dan bertambahnya jumlah reseptor insulin yang aktif pada waktu berolahraga. Oleh karena itu otot yang aktif disebut sebagai jaringan non-insulin dependent 6. Tanpa adanya insulin, masuknya glukosa kedalam otot rangka mengalami peningkatan selama berolahraga, hal ini disebabkan adanya peningkatan jumlah transporter GLUT-4 independent-insulin dimembran sel otot. Meningkatnya pemasukan glukosa ini menetap selama beberapa jam setelah olahraga, dan latihan yang teratur dapat menghasilkan peningkatan kepekaan terhadap insulin yang berkepanjangan 7.
Selain beberapa teori yang ada mengenai penyebab terjadinya resistensi insulin, didapatkan sebuah teori yang ada mengenai penyebab terjadinya peningkatan sensitivitas insulin pada saat berolahraga. Keadaan ini dapat dijelaskan sebagai berikut, yaitu pada waktu berolahraga blood flow (BF) meningkat, ini menyebabkan lebih banyak jala-jala kapiler terbuka sehingga lebih banyak reseptor insulin yang tersedia dan aktif.
2.    Takaran latihan olah raga
Ibarat pemberian obat terapi olah raga juga mempunyai dosis atau takaran latihan, jika dosis kurang, manfaat yang diharapkan akan berkurang dan kalau berlebihan juga justru merugikan tubuh. Takaran olah raga yang perlu diperhatikan adalah intensitas, lama dan frekuensi latihan.
a.    Intensitas latihan
Sebaiknya olaraga yang dilakukan bersifat ringan hingga sedang yaitu, saat berolaraga detak jantung berkisar pada 60-70% dari MHR (Maximun Heart Rate, detak jantung maksimun).
b.    Lama latihan
Lama latihan olah raga juga ada takarannya, setiap melakukan olahraga hendaknya zona sasaran harus dicapai dan dipertahankan selama paling sedikit 25 menit. Latihan mencapai zona sasaran yang dilakukan lebih lama memberikan efek yang lebih baik. Sebagaimana yang diterangkan diatas, pada waktu melakuka olahraga yang lamanya mencapai 40-90 menit bahan bakar yang digunakan sebagai sumber tenaga adalah yang berasal dari asam lemak. Dengan cara demikian kadar glukosa darah dan lemak darah (kolesterol) adakan digunakan tubuh, maka kedua zat tersebut akan menuju normal.
c.    Frekuensi latihan
Yang dimaksud dengan frekuensi latihan adalah frekuensi latihan setiap minggu. Latihan olahraga yang dilakukan 3 kali dalam seminggu memberikan efek yang lebih baik. Kalau mungkin latihan olahraga yang dilakukan 4 kali seminggu memberikan efek yang lebih baik
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan setiap kali melakukan olahraga adalah agar tetap memperhatikan dan mengikuti tahap-tahap berikut ini :
1)        Pemanasan (warm up)
Latihan ini dilakukan sebelum memasuki  latihan inti dengan tujuan untuk mempersiapkan berbagai sistem tubuh sebelum memasuki latihan yang sebenarnya. Tujuan latihan ini adalah menaikkan suhu tubuh, meningkatkan denyut jantung mendekati intensitas latihan. Selain itu pemanasan perlu untuk mengurangi kemungkinan terjadinya cedera akibat olahraga. Lama pemanasan biasanya 5-10 menit.
2)        Latihan inti (conditioning)
Pada tahap ini, denyut nadi diusahakan mencapai target seperti yang ditulis diatas. Bila target tersebut tidak tercapai, kurang bermanfaat. Sebaliknya bila melebihi target yang telah ditentukan, akan menimbulkan resiko yang tidak diinginkan.
3)        Pendinginan (cool down)
Sebaiknya setiap selesai melakukan olahraga dilakukan pendinginan untuk mencegah terjadinya penimbunan zat-zat racun yang dikeluarkan sewaktu berolahraga atau pusing-pusing karena darah masih terkumpul diotot yang aktif. Penimbunan asam laktat dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot sesudah berolahraga. Bila olahraga yang dilakukan adalah jogging maka pendinginan sebaiknya tetap jalan  untuk beberapa menit. Bila bersepeda, tetap mengayung sepeda tanpa beban. Lama pendinginan kurang lebih 5-10 menit, hingga denyut nadi mendekati detak jantung waktu istirahat.
4)        Peregangan (stretching)
Hal ini dilakukan untuk melemaskan dan melenturkan otot yang masih teregang dan lebih elastis. Komponen ini sangat penting untuk usia lanjut.
3.    Jenis Olahraga
Jenis olahraga yang baik untuk pengidap DM adalah olahraga yang memperbaiki kesegaran jasmani. Oleh karena itu harus dipilih jenis olahraga yang memperbaiki semua komponen kesegaran jasmani yaitu yang memenuhi ketahanan, kekuatan, kelenturan tubuh (fleksibilitas), keseimbangan, ketangkasan, tenaga dan kecepatan. Agar memenuhi hal tersebut, latihan olahraga sebaiknya bersifat kontinyu (continous), ritmis(tytmical) interval, progresif, dan latihan ketahanan (endurance).
a.    Latihan kontinyu
Latihan yang diberikan harus berkesinambungan, dilakukan terus-menerus tanpa henti. Contoh, bila dipilih jogging 30 menit, maka selama 30 menit pengidap melakukan jogging tanpa istirahat.
b.    Latihan ritmis
Latihan olahraga harus yang dipilih yang berirama, yaitu otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur. Contoh latihan ritmis adalah jalan kaki, jogging, berlari, berenang, bersepeda, mendayung. Main golf, tenis atau badminton tidak memenuhi syarat karena banyak berhentinya.
c.    Latihan interval
Latihan olahraga yang dilakukan selang-seling antara gerak cepat dan lambat dan sebagainya. Dengan kegiatan yang bergantian pengidap dapat bernapas dengan lega tanpa menghentikan latihan sama sekali
d.    Latihan progresif
Latihan yang dilakukan harus beransur-ansur dari sedikit ke latihan yang lebih berat, secara bertahap. Jadi beban latihan olahraga dinaikkan sedikit demi sedikit sesuai dengan pencapaian latihan sebelumnya.
e.    Latihan daya tahan
Latihan daya tahan memperbaiki sistem kardiovaskuler. Oleh karena itu sebelum ikut program latihan olahraga, terhadap pengidap harus dilakukan pemeriksaan kardiovaskuler.
Agar tidak bosan dalam melakukan program latihan olahraga, sebaiknya pengidap memilih sendiri olahraga yang disenangi, bersifat rekreatif, dapat dilaksanakan dimana pun ia berada.

C.   Tinjauan Umum tentang Faktor-faktor Yang Berhubungan dengan Ketaatan Olahraga
Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien dalam mengambil suatu tindakan pengobatan seperti diet, kebiasaan hidup sehat, ketepatan berobat. Ketaatan atau kepatuhan merupakan perilaku yang disampaikan secara berkesinambungan yang berasal dari adanya suatu motif yang dimiliki komponen emosional (efektif) sehingga mendorong seseorang untuk mempengaruhi kebutuhannya dan cendrung diulang karena menghasilkan suatu yang bermanfaat dan menyenangkan 17
Sarafino (1990) dikutip dari Bart Smet dalam psikologi kesehatan mendefinisikan kepatuhan (ketaatan) sebagai tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokter atau orang lain. Faktor yang berhubungan dengan ketaatan dimana secara riset tentang ketaatan pasien sebagi penerima nasehat dokter yang pasif dan patuh. Pasien yang tidak patuh dipandang sebagai orang lalai dan masalahnya dianggap sebagai masalah kontrol, riset berusaha untuk mengidentifikasi masalah kelompok-kelompok pasien yang tidak patuh berdasarkan kelas ekonomi, umur dan jenis kelamin. Usaha ini sedikit berhasil, setiap orang dapat menjadi tidak taat atau situasinya tidak memungkinkan.
Kepatuhan sering kali diartikan sebagai usaha klien mengendalikan perilakunya, bahkan jika hal tersebut bisa menimbulkan resiko mengenai kesehatannya. Faktor penting ini sering dilupakan. Banyak dokter begitu saja beranggapan bahwa pasien akan mengikuti apa yang mereka nasehatkan tanpa menyadari, bahwa pasien tersebut pertama-tama harus memutuskan lebih dahulu apakah mereka akan melakukannya 18.
1.    Penyuluhan
Pendidikan (penyuluhan) kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu 19. dengan adanya pesan tersebut maka diharapkan masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Dengan kata lain, adanya penyuluhan tersebut diharapkan dapat membawa akibat perubahan perilaku sasaran.
a.    Pengertian
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.
Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin dhidup sehat, tahu bagaimana dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan maupun secara berkelompok dan meminta pertolongan bila perlu (Depkes).
b.    Sasaran penyuluhan
Sebenarnya sasaran langsung penyuluhan diabetes melitus adalah penyandang diabetes, tetapi untuk mencapai program yang berdayaguna dan sekaligus berhasil guna, kita perlu menentukan juga sasaran tidak langsung yang terdiri dari petugas kesehatan dan bernagai komunitas dmana penyandang diabetes berada sewaktu melakukan kegiatan sehari-hari, sasaran berikutnya adalah orang-orang yang sehari-hari beraktivitas bersama-sama dengan penyandang diabetes, baik dilingkungan rumah atau dilingkungan lainnya misalnya lingkungan tempat kerja dan sebagainya.
c.    Tujuan penyuluhan
            Penyuluhan kesehatan atau lebih tepat adalah pendidikan kesehatan , merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus-menerus. Yang kemajuannya harus terus diamati terutama oleh mereka yang memberikannya. Pada umumnya kebutuhan penyandang diabetes akan penyuluhan kesehatan dideteksi oleh petugas kesehatan, untuk selanjutnya ditumbuhkan rasa membutuhkan pada penyandang diabetes. Tujuan pendidikan kesehatan bagi penyandang diabetes pertama-tama adalah meningkatkan pengetahuan mereka. Pengetahuan tersebut akan menjadi titik tolak perubahan sikap dan gaya hidup mereka. Pada akhirnya yang menjadi tujuan pendidikan adalah perubahan perilaku penyandang diabetes dan meningkatkan kepatuhan yang selanjutnya akan meningkatkan kualitas hidup.
2.    Dukungan keluarga
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan (suprajitno 2004) keluarga mempunyai tugas dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan meliputi
a.    Mengenal masalah kesehatan
Orang tua atau keluarga perlu mengenal masalah kesehatan atau perubahan-perubahan yang terjadi oleh anggota keluarga
b.    Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga
Merupakan upaya keluarga dalam mencari pertolongan yang tepat sesuai keadaan keluarga dan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan tindakan keluarga dalam mengatasi atau mengurangi masalah kesehatan
c.    Merawat keluarga yang mengalami masalah kesehatan\
Seringkali keluarga mengambil tindakan yang tepat, tetapi keluarga memiliki keterbatasan, jika demikian  anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu mendapatkan tindakan lanjutan dinstitusi pelayanan kesehatan.
d.    Memodifikasi lingkungan keluaarga
e.    Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga
3.    Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tahapan yakni tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan penilaian kembali. Untuk dapat menjalani perilaku yang diinginkan, seseorang harus melampaui semua tahapan tersebut. Enam tahapan tersebut merupakan suatu proses yang memerlukan waktu, dan lama proses tersebut tidak sama untuk setiap orang 6
Pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalamn yang berbagai macam sumber, misalnya : pendidikan, media massa, elektronik, buku petunjuk, petunjuk kesehatan, media poster, kerabat dekat dan sebagainya. Pengetahuan ini dapat membentuk keyakinan tertentu sehingga seseorang berperilaku sesuai keyakinan tersebut. Notoatmojo (1993) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan resultan akibat proses penginderaan terhadap suatu obyek. Pengetahuan merupakan suatu domain yang sangat penting untuk terbentuknya sikap terbuka. Sikap yang didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng.
4.    Motivasi
Motivasi dari bahasa latin movere, berarti menimbulkan pergerakan , banyak istilah untuk menyebut motivasi atau motif antara lain kebutuhan, keinginan, dorongan. Motivasi sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang (iner state) yang mendorong, mengaktifkan atau menggerakkan dan menyalurkan perilaku kearah tujuan 20.
Mukhlas (1997), mendefinisikan motivasi dalam perilku organisasi sehingga kemauan untuk berjuang dan berusaha ketingkat yang lebih tinggi menuju terjadinya tujuan organisasi, dengan syarat tidak mengabaikan kemampuannya untuk memperoleh kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan peribadi.
Pada dasarnya usaha seseorang dalam mengarahkan daya dan potensinya ditentukan oleh kekuatannya sehingga tingkat motivasinya dan alat perangsang atau faktor motivasinyan cendrung berkurang jika kepuasan telah tercapai. Karakteristik motivasi adalah sebagai berikut
a.    Direction
Menunjukkan kemana gerakan itu akan ditujukan
b.    Actifation
Mendorong munculnya gerakan atau perbuatan dan daya ingat dari beberapa banyak serta kuatnya gerakan tersebut
c.    Analisis motifation
Gerakan yang dilatar belakangi motivasi pada hakikatnya dapat dianalisa dari berbagai arah yaitu analisis psikologis, analisis individual, sosial dan filosofi.
   Dalam pelaksanaan kegiatan, penyampaian informasi dan penyuluhan tidak cukup untuk mencapai hasil seperti yang kita inginkan. Pengetahuan seseorang yang meningkat mengenai sesuatu hal tidak selalu diikuti dengan perubahan tingkah laku.untuk mau mengubah perilaku, tentunya seseorang harus mempunyai motif atau bergerak untuk melakukan sesuatu perubahan. Dengan demikian jelaslah bahwa seorang petugas selain harus dapat menyampaikan informasi yang benar, juga diharapkan dapat menjadi moivator, yakni orang yang selalu berusaha mempengaruhi sasaran agar sasaran tersebut setuju dan mendukung gagasan yang disampaikan. Memotivasi seseorang berarti memberikan pengertian tentang sesuatu agar orang tersebut tumbuh kesadarannya, untuk kemudian menerima, dan terdorong atau tergerak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya 6.
Motivasi berfungsi untuk mengarahkan, mendorong dan menggerakkan seseorang atau kelompok untuk melakukan sesuatu. Hal tersebut ditempuh melalui cara, yaitu yang pertama mengusahakan terciptanya suatu keadaan yang dapat menumbuhkan dorongan batin seseorang agar tergerak hatinya untuk bertingkah laku. Yang kedua memberikan pengertian kepada individu atau kelompok agar mereka terdorong untuk melakukan sesuatu setelah ia mengerti.

5.    Sikap
Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup, tidak dapat dilihat secara langsung sehingga sikap hanya dapat ditafsirkan dari perilaku, yang nampak. Pengertian lain sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu serta merupakan respon evaluatif terhadap pengalaman kognitif, kehendak dan perilaku masa lalu. Sikap akan mempengaruhi proses berpikir, kehendak perilaku berikutnya. Jika jadi merupakan respon evaluatif didasarkan pada proses evaluasi diri, yang dismpulkan berupa penilaian positif atau negatif yang kemudian mengkristalkan sebagai potensi terhadap suatu objek.
Mar’at 91998) mengatakan manusia dilahirkan dengan sikap dan pandangan ataupun perasaan tertentu tetapi sikap tadi dibentuk sepanjang perkembangannya. Dengan kata lain sikap merupakan produk dari proses sosialisasi , seseorang memberikan reaksi sesuai dengan rangsangan yang diterimanya.
Menurut kartono (1990) sikap seseorang adalah predisposisi (keadaan modal terpengaruh) untuk memberikan tanggapan terhadap rangsangan lingkungan yang didapat melalui atau membimbing tingkah laku orang tersebut.
Mengubah sikap diabetes bukan pekerjaan yang mudah, bahkan lebih sulit daripada meningkatkan pengetahuan. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Sikap sebenarnya bagian dari kepribadian. Berbeda dengan perangai yang juga merupakan bagian dari kepribadian, sikap adalah kecendrungan yang tertata untuk berpikir, merasa, mencerap dan berperilaku terhadap suatu referen atau obyek kognitif. Contoh misalnya sikap seseorang penyandang diabetes terhadap cara pemberian obat yang diberikan. Seseorang bisa mempunyai sikap yang sangat tidak menyetujui pemberian melalui suntikan, sedangkan orang lain sangat tidak menyukai pemberian obat peroral. Sikap yang tidak mendukung perilaku yang diharapkan, tentunya akan menghambat dilaksanakannya perilaku tersebut. Dengan mengetahui sikap masing-masing penyandang diabetes yang diperkirakan mempunyai hubungan perilaku yang iinginka, seorang edukator dapat melakukan intervensi tertentu pada gilirannya dapat mengubah perilaku penyandang diabetes.











BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A.       Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teoritis yang telah diuraikan pada tinjauan kepustakaan, maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam bentuk skema seperti dibawah ini :

         VariableI independen                                Variable Dependen
SIKAP
PENYULUHAN
DUKUNGAN KELUARGA
MOTIVASI
PENGETAHUAN
KETAATAN OLAHRAGA









 Keterangan:
                        =   variabel yang diteliti
                      =    variabel yang ti
B.       Hipotesis penelitian
H1 : Hipotesis alternatif
1.    Ada hubungan penyuluhan dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2
2.    Ada hubungan dukungan keluarga dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2
3.    Ada hubungan pengetahuan dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2
4.    Ada hubungan motivasi dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2
C.       Defenisi operasional

NO
VARIABEL
DEFENISI OPERASIONAL
KRITERIA OBYEKTIF
SKALA PENGUKURAN

1


Independen

Penyuluhan

Suatu bentuk pengarahan /penjelasan yang diberikan oleh petugas kesehatan terhadap penderita agar supaya dapat mengerti dan taat terhadap program olahraga yang dianjurkan

Baik : jika memperoleh nilai ≥
17
Kurang : jika memperoleh nilai <17


Ordinal


2
Dukungan keluarga
Segala bentuk perhatian yang diberikan oleh keluarga terhadap penderita dalam membantu mematuhi program olahraga yang dianjurkan
Baik : jika memperoleh nilai ≥15

Kurang : jika memperoleh skor <15
Ordinal

3

Pengetahuan
Pemahaman responden tentang DM yang mencakup pengertian, penyebab, tanda dan keluhan serta penatalaksanaannya.
Baik : jika memperoleh nilai ≥13
Kurang : jika memperoleh nilai <13
Ordinal

4
Motivasi
Dorongan atau faktor dalam diri yang menimbulkan keinginan pasien untuk mematuhi program olahraga yang dianjurkan oleh petugas kesehatan dalam proses penanganan penyakitnya
Tinggi : jika nilainya ≥3
Rendah : jika nilainya<3
Ordinal

5

Dependen

Ketaatan olahraga
Merupakan suatu kepatuhan yang didapatkan dari responden selama melakukan penelitian dalam melaksanakan program olahraga yang dianjurkan oleh petugas kesehatan
Taat : jika mengikuti program olahraga yang ditentukan olah petugas kesehatan atau memperoleh nilai ≥3

Tidak taat : jika tidak mengikuti program olahraga yang dianjurkan oleh petugas kesehatan atau dengan nilai <3
Ordinal

D.       Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dimana peneliti melakukan pengukuran variabel independen dan dependen hanya satu kali pada suatu saat, peneliti menilai variabel dependen dan independen secara simultan tidak ada follow up 21. Dalam hal ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi Faktor-faktor yang berhubungan dengan ketaatan melakukan olahraga pada klien DM tipe 2 yang dirawat jalan di BPRSUD Labuang Baji Makassar.
E.       Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah klien yang telah dinyatakan/terdiagnosis DM tipe 2 yang dirawat jalan di BPRSUD Labuang baji makassar. Dengan pendekatan non probability sampling dimana ada beberapa klien DM tipe 2 memiliki kemungkinan untuk tidak dipilih/dijadikan sampel penelitian 22.
Pengambilan jumlah sampel (sampling) dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jenuh yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan mengambil semua populasi menjadi sampel 21,23.Ada pun jumlah sampel pada penelitian adalah sebanyak 47 responden.   
Kriteria Sampel:
Kriteria Inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti. Dirumuskan sebagai berikut:
1.        Bersedia menjadi responden.
2.        Klien yang terdiagnosis DM tipe 2
3.        Klien yang berkunjung di Unit rawat jalan BPRSUD Labuang Baji Makassar
Kriteria ekslusi adalah menghilangkan/mengeluarkan subjek yang  tidak memenuhi kriteria inklusi dari penelitian karena berbagai sebab yang dirumuskan sebagai berikut:
1.    Tidak bersedia menjadi responden
2.    Semua pasien DM tipe 2 yang rawat jalan di RS Labuang Baji  Makassar yang tidak terdiagnosa penyakit diabetes melitus
F.        Waktu dan Tempat Penelitian
1.    Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 6 Maret sampai 3 April  2009.
2.    Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Unit rawat jalan RSUD Labuang Baji Makassar.
G.       Instrument Penelitian
Alat pengumpulan data dirancang oleh peneliti sesuai dengan kerangka konsep yang telah dibuat. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner, jenis pengukuran ini peneliti mengumpulkan data primer secara formal kepada responden untuk menjawab pertanyaan secara tertulis atau wawancara langsung. Dan data sekunder berdasarkan data medical record di BPRSUD Labuang baji makassar. Dan pengukuran pada variabel independen , variabel tentang penyuluhan yang terdiri dari 7 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan telah disediakan jawaban yang memilik dan masing-masing jawaban memilik poin tersendiri antara lain : selalu (4), sering (3), kadang-kadang (2), tidak pernah (1), begitu pula pada variabel dukungan keluarga dimana terdiri dari 6 pertanyaan dengan poin jawabab selalu (4), sering (3), kadang-kadang (2), tidak pernah (1). Sedangkan tentang pengetahuan dan motivasi menggunakan skala guttman, dimana untuk pengetahuan jika benar (skor 2), salah (1), dan motivasi ya(skor 1), tidak (0). Dan pada variabel dependen tentag ketaatan olahraga terdiri dari 4 pertanyaan dimana jika ya (skor 1), tidak (skor 0).
H.       Uji instrument
1.    Uji validitas
Adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur, sebelum kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur maka kuesioner tersebut dilakukan uji coba ”trial” dilapangan agar mendapatkan distribusi nilai hasil pengukuran mendekati normal, maka jumlah responden untuk uji coba 20 orang.
Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik korelasi ”product momen” yang rumusnya sebagai berikut :
Dari hasil uji instrument diperoleh bahwa jika t hitung > t tabel maka pernyataan valid. Dari hasil uji validitas didapatkan t tabel dari tiap-tiap pernyataan= (0,688). Dari hasil uji validitas diatas didapat t hitung > t tabel berarti pernyataan valid.
2.    Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana sesuatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan.         Jika r 11 > r tabel maka pernyataan reliabel, dan r tabel dari tiap-tiap pernyataan=(0,468). Dari hasil uji reliabilitas diatas didapat bahwa r11>r tabel yang berarti pernyataan reliabilitas.
I.          Prosedur Pengumpulan Data
1.    Data primer
Untuk memperoleh data primer dilakukan dengan cara memberikan kuesioner dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.    Mendatangi atau mencari pasien yang menderita DM tipe 2
b.    Wawancara singkat dengan pasien untuk mencari pasien
c.    Sebelum kuesioner diserahkan kepada responden, peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian
d.    Setelah responden memahami tujuan penelitian, maka peneliti  mengajukan surat persetujuan untuk ditanda tangani pada lembar persetujuan
e.    Jika responden telah menyatakan bersedia, maka kuesioner diberikan dan responden diminta untuk mempelajari terlebih dahulu tentang cara pengisian kuesioner
f.     Setelah kuesioner selesai diisi oleh responden, selanjutnya dikumpulkan dan dipersiapkan untuk diolah dan dianalisa
2.    Data sekunder
Data sekunder diperolah dari data medical record BPRSUD Labuang Baji makassar.
J.        Pengolahan Data
1.    Editing Data
Maksud melakukan editing untuk menilai kelengkapan, kejelasan dan kesesuaian jawaban responden, agar seluruh data yang diterima dapat diolah dengan baik, sehingga pengolahan data dapat menghasilkan out put yang merupakan gambaran jawaban terhadap hipotesis penelitian.
Data yang terkumpul diolah dengan bantuan computer dengan program SPSS 16, setelah itu diedit untuk memperoleh hasil yang dapat  menggambarkan  penelitian sesuai dengan tujuan penelitian.
2.    Coding Data
Dilakukan untuk memudahkan pengolahan data yaitu lewat memberikan simbol-simbol atau kode dari setiap jawaban responden.
3.    Entry data dengan bantuan program SPSS16.
4.    Cleaning Data
Cleaning (pembersihan Data) merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak.
5.    Pembobotan dan pembentukan variabel penjumlahan skor
Jawaban responden pada setiap variabel sehingga dapat nilai total masing-masing variabel yang selanjutnya dijadikan distribusi frekwensi dan distribusi proporsi.
6.    Analisa Data
Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk table distribusi  frekwensi disertai penjelasan atau narasi yang menunjukkan suatu penggambaran dari variable yang diteliti. Diolah dengan bantuan computer dengan program SPSS 16.
Data yang telah dikumpulkan terlebih dahulu di edit baik pada waktu di lapangan, ini dimaksudkan untuk memfilter data-data missing agar tidak terjadi kesalahan. Setelah itu dilakukan pengkodean (coding) data yang dilanjutkan dengan tabulasi data untuk dikelompokkan dalam bentuk tabel kemudian diinput ke dalam komputer untuk dianalisa lebih lanjut.
Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dengan melakukan analisa univariat dan bivariat. Dengan rumus sebagai berikut.

X2 = ∑ (O-E)2
             E
                  Keterangan :
X2 = Chi Square hasil perhitungan
E = Nilai expected (harapan)
O = nilai observasi
Interpretasi : dikatakan mempunyai hubungan (signifikan)  apabila nilai X2 hitung lebih besar dari X2 tabel untuk α=0,05
K.   Etika Penelitian
1.    Informed consent (lembar persetujuan)
Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan lembar persetujuan kepada responden untuk melakukan persetujuan antara peneliti dan responden, dengan tujuan agar subjek/responden dapat mengerti maksud dan tujuan penelitian, di mana pada lembar persetujuan tersebut terdapat identitas responden dan beberapa daftar pertanyaan. Jika subjek/responden bersedia maka responden harus menandatangani lembar persetujuan dan jika responden tidak bersedia maka peneliti akan menghargai hak-hak responden/subjek yang diteliti.
2.    Anonymity (tanpa nama)
Dalam penelitian ini, nama responden diganti dengan menggunakan inisial saja atau kode pada tiap lembaran kuesioner untuk menjaga  privacy dari responden.
3.    Confidentiality (kerahasiaan)
Peneliti harus selalu menjamin kerahasiaan identitas dari responden, semua berkas yang mencantumkan identitas responden harus digunakan untuk keperluan pengolahan data dan bila tidak digunakan lagi maka data tersebut akan dimusnahkan.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Hasil penelitian
Penelitian ini dilakukan di   Rumah Sakit Labuang Baji Makassar dari tanggal 6 Maret sampai 3 April 2009. Hasil penelitian ini diperoleh melalui wawancara langsung dan kuesioner yang memuat pertanyaan tentang penyuluhan, dukungan keluarga, pengetahuan, motivasi, dan ketaatan olahraga. Kuesioner ini dibagikan kepada responden dan kemudian mengisinya langsung dengan didampingi oleh peneliti. Besar sample sebanyak 47 responden yang semuanya telah memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil pengolahan data maka berikut ini akan disajikan analisa univariat dan bivariat.
1.    Analisa univariat
Analisa univariat pada penelitian ini bertujuan untuk memenuhi distribusi frekuensi dan variabel independen yaitu penyuluhan, dukungan keluarga, pengetahuan, motivasi, serta variabel dependen yaitu ketaatan olahraga pasien diabetes melitus tipe 2.
a.    Variable independen
1)    Tingkat penyuluhan



Tabel II
Distribusi frekuensi responden berdasarkan penyuluhan Pasien rawat jalan DM tipe 2 di Poli Endokrin
Rumah Sakit Labuang Baji Makassar
2009
Penyuluhan
F
%
Baik
kurang
39
8
83
17
jumlah
47
100
Sumber : data primer 2009
Berdasarkan table II diatas responden yang mendapat penyuluhan baik sebanyak 39 Orang (83%), dan responden yang mendapat penyuluhan kurang sebanyak 8 orang (17%)
2)    Tingkat dukungan keluarga
Tabel III
Distribusi frekuensi responden berdasarkan dukungan keluarga  pasien rawat jalan DM tipe 2 di Poli Endokrin
Rumah Sakit Labuang Baji Makassar
2009
Dukungan keluarga
F
%
Baik
kurang
36
11
76,6
23,9
jumlah
47
100
Sumber : Data primer 2009
Berdasarkan table III diatas responden yang memiliki dukungan keluarga baik sebanyak 36 orang (76,6%), dan responden yang memiliki dukungan keluarga kurang sebanyak 11 orang (23,9%).

3)    Tingkat pengetahuan
            Tabel IV
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan pasien rawat jalan DM tipe 2 di Poli Endokrin
Rumah Sakit Labuang Baji Makassar
2009
Pengetahuan
F
%
Baik
kurang
39
8
83
17
jumlah
47
100
Sumber : Data primer 2009
Berdasarkan table IV diatas responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak  39 orang (83%), dan responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 8 orang (17%).
4)    Tingkat motivasi
Tabel V
            Distribusi frekuensi responden berdasarkan motivasi Rawat jalan DM tipe 2 Poli Endokrin
Rumah Sakit Labuang Baji Makassar
2009
Motivasi
F
%
Tinggi
Rendah
38
9
80,9
19,1
Jumlah
47
100
Sumber : Data primer 2009
Berdasarkan table V diatas responden yang memiliki motivasi tinggi sebanyak  38 orang (80,9%), dan responden yang memiliki motivasi rendah sebanyak  9 Orang (19,1%)
b.    Variable dependen
1)    Ketaatan olahraga pasien DM tipe 2
Tabel VI
            Distribusi frekuensi responden berdasarkan ketaatan Olahraga pasien rawat jalan DM tipe 2 di Poli Endokrin
Rumah Sakit Labuang Baji Makassar
2009
Ketaatan Olahraga
F
%
Taat
Tidak taat
40
7
85,1
19,4
Jumlah
47
100
Sumber : Data primer 2009
Berdasarkan table VI diatas responden yang memiliki motivasi tinggi sebanyak 40 orang (85,1%), dan responden yang memiliki motivasi rendah sebanyak 7 Orang (19,4%)
2.    Analisa bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan variabel Independen secara sendiri-sendiri dengan variabel dependen dengan menggunakan uji statistic chi square dengan tingkat kemaknaan (ά) 0,05.
a.    Variable independent
1)    Hubungan penyuluhan dengan ketaatan olahraga pasien DM tipe 2





Tabel VII
Hubungan Penyuluhan dengan Ketaatan Olahraga Pasien
Rawat Jalan DM tipe 2 di Poli Endokrin
Ruimah Sakit Labuang Baji Makassar
2009


Ketaatan olahraga
Penyuluhan
Taat
Tidak taat
Jumlah
N
%
N
%
N
%
Baik
38
97,4
1
2,6
39
100
Kurang
2
25,0
6
75,0
8
100
Jumlah
40
85,1
7
14,9
47
100
      Sumber  : Data primer 2009      Nilai p=0,000   OR=114
Berdasarkan table VII diperoleh data bahwa dari ..responden yang mendapat penyuluhan baik dan taat olahraga sebanyak 38 orang (97,4%), sedangkan yang tidak taat sebanyak 1 orang (2,6%). Dan responden yang mendapat penyuluhan kurang yang taat olahraga sebanyak 2 orang (25%), sedangkan yang tidak taat sebanyak 6 orang (75%).
Dari hasil Fisher Exact Test diperoleh nilai P=0,000 yang berarti lebih kecil dari (ά) 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara penyuluhan dengan ketaatan olahraga pasien DM tipe 2. dari Odds Rasio pada table diatas klien yang mendapat penyuluhan baik memiliki peluang (114) untuk taat olahraga

2)    Hubungan dukungan keluarga dengan ketaatan olahraga pasien DM tipe 2
Tabel VIII
Hubungan dukungan keluarga dengan Ketaatan Olahraga
Pasien Rawat Jalan DM tipe 2 di Poli Endokrin
Ruimah Sakit Labuang Baji Makassar
2009

Ketaatan olahraga pasien DM tipe 2
Dukungan keluarga
Taat
Tidak taat
Jumlah
N
%
N
%
N
%
Baik
36
100
0
0
36
100
kurang
4
36,4
7
63,6
11
100
jumlah
40
85,1
7
14,9
47
100
Sumber  : Data primer 2009      Nilai p=0,000   OR=3

Berdasarkan tabel VIII diperoleh data bahwa dari ..responden yang memiliki dukungan keluarga baik dan taat olahraga sebanyak. 36 orang (100%), sedangkan yang tidak taat sebanyak 0 orang (0%). Dan responden yang memiliki dukungan keluarga kurang yang taat olahraga sebanyak 4 orang (36,4%), sedangkan yang tidak taat sebanyak 7 orang (63,6%).
Dari hasil Fisher Exact Test diperoleh nilai P=0,000 yang berarti lebih kecil dari (ά) 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan ketaatan olahraga pasien DM tipe 2. dari Odds Rasio pada table diatas klien yang memiliki dukungan keluarga baik  memiliki peluang (3) untuk taat olahraga
3)    Hubungan pengetahuan dengan ketaatan olahraga pasien DM tipe 2
Tabel IX
Hubungan Pengetahuan dengan Ketaatan Olahraga Pasien
Rawat Jalan DM tipe 2 di Poli Endokrin
Ruimah Sakit Labuang Baji Makassar
2009


Ketaatan olahraga pasien DM tipe 2
Pengetahuan
Taat
Tidak taat
Jumlah
N
%
N
%
N
%
Baik
38
97,4
1
2,6
39
100
kurang
2
25
6
75
8
100
jumlah
40
85,1
7
14,9
47
100
Sumber  : Data primer 2009      Nilai p=0,000   OR=114

Berdasarkan tabel IX diperoleh data bahwa dari ..responden yang memiliki pengetahuan baik dan taat olahraga sebanyak 38 orang (97,4%), sedangkan yang tidak taat sebanyak 1 orang (2,6%). Dan responden yang memiliki pengetahuan kurang yang taat olahraga sebanyak 2 orang (25%), sedangkan yang tidak taat sebanyak 6 orang (75%).
Dari hasil Fisher Exact Test diperoleh nilai P=0,000 yang berarti lebih kecil dari (ά) 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan ketaatan olahraga pasien DM tipe 2. dari Odds Rasio pada table diatas klien yang memiliki pengetahuan baik memiliki peluang (114) untuk taat olahraga
4)    Hubungan penyuluhan dengan ketaatan olahraga pasien DM tipe 2
Tabel X
Hubungan motivasi dengan Ketaatan Olahraga Pasien
Rawat Jalan DM tipe 2 di Poli Endokrin
Ruimah Sakit Labuang Baji Makassar
2009

Ketaatan olahraga pasien DM tipe 2
Motivasi
Taat
Tidak taat
Jumlah
N
%
N
%
N
%
Tinggi
37
97,4
1
2,6
38
100
Rendah
3
33,3
6
66,7
9
100
jumlah
40
85,1
7
14,9
47
100
Sumber  : Data primer 2009      Nilai p=0,000   OR=74

Berdasarkan tabel X diperoleh data bahwa dari ..responden yang memiliki motivasi tinggi dan taat olahraga sebanyak 37 orang (97,4%), sedangkan yang tidak taat sebanyak 1 orang (2,6%). Dan responden yang memiliki motivasi rendah yang taat olahraga sebanyak 3orang (33,3%), sedangkan yang tidak taat sebanyak  6 orang (66,7%).
Dari hasil Fisher Exact Test diperoleh nilai P=0,000 yang berarti lebih kecil dari (ά) 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara motivasi dengan ketaatan olahraga pasien DM tipe 2. dari Odds Rasio pada tabel diatas klien yang memiliki motivasi tinggi memiliki peluang (74) untuk taat olahraga

B.   PEMBAHASAN
1.    Analisa univariat
a.    Penyuluhan
Berdasarkan data hasil analisa univariat menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 47 responden yang mendapat penyuluhan baik sebanyak 39 responden (83%), dan yang mendapat penyuluhan kurang tentang ketaatan olahraga penyakit diabetes tipe 2 sebanyak 8 responden (17%). Hal ini menunjukkan ada sosialisasi atau penyuluhan secara rutin diberikan oleh petugas kesehatan yang terkait dengan keadaan penderita dalam upaya memberikan pemahaman dan membangun motivasi dalam rangka meningkatkan ketaatan dalam olahraga.
b.    Dukungan keluarga
Berdasarkan data hasil analisa univariat menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 47 responden yang memiliki dukungan keluarga baik sebanyak 36 responden (76,6%), dan yang memiliki dukungan keluarga kurang tentang ketaatan olahraga penyakit diabetes tipe 2 sebanyak. 11 responden (23,9%). Hal ini menunjukkan bahwa adanya perhatian yang tinggi dari keluarga terhadap pasien diabetes tipe 2, dimana keluarga tentunya sangat mengharapkan pasien dalam keadaan sehat.

c.    Pengetahuan
Berdasarkan data hasil analisa univariat menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 47 responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 39 responden (83%), dan yang memiliki pengetahuan kurang tentang ketaatan olahraga penyakit diabetes tipe 2 sebanyak 8 responden (17%). Hal ini disebabkan oleh karena adanya penyuluhan dan sosialisasi yang terus dilakukan oleh petugas kesehatan tentang pentingnya olahraga secara teratur dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kebugaran pada pasien diabetes
d.    Motivasi
Berdasarkan data hasil analisa univariat menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 47 responden yang memiliki motivasi  tinggi sebanyak 38 responden (80,9%), dan yang memiliki motivasi rendah tentang ketaatan olahraga penyakit diabetes tipe 2 sebanyak 9 responden (19,1%). Hal ini karena besarnya keinginan dari responden untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Pada dasarnya juga seseorang dalam mengarahkan daya dan potensinya ditentukan oleh kekuatan tingkat kebutuhannya sebagai tingkat motivasi.
2.    Analisa bivariat
a.    Hubungan penyuluhan dengan ketaatan olahraga pasien diabetes mellitus tipe 2
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 47 responden yang mendapat penyuluhan baik dan taat olahraga yaitu sebanyak 38 Responden (97,4%), sedangkan responden yang mendapat penyuluhan baik dan tidak taat sebanyak 1 responden (2,6%).
Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan penyuluhan dengan ketaatan dalam melaksanakan olahraga. Hal ini berarti bahwa peranan petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan dapat meningkatkan ketaatan olahraga pada pasien diabetes khususnya DM tipe 2., dimana yang mendapat penyuluhan baik mempunyai ketaatan lebih besar dalam melakukakn olahraga, sebaliknya yang mendapat penyuluhan kurang mempunyai kemungkinan kurang yang taat untuk olahraga.
Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan olah Notoatmojo (2003) yang mengatakan bahwa pendidikan kesehatan ditujukan untuk menggugah kesadaran, memberikan atau meningkatkan pengetahuan masyarakat  tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan baik bagi dirinya sendiri, keluarganya maupun masyarakatnya. Disamping itu dalam konteks ini pendidikan kesehatan juga memberikan pengertian-pengertian tentang tradisi, kepercayaan masyarakat dan sebagainya, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan kesehatan. Pendidikan kesehatan dalam bentuk penyuluhan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang penyakitnya.
Sedangkan menurut Snehenda (1983) menganalisa bahwa informasi berperan dalam menunjang perubahan perilaku seseorang. Informasi yang diterima melalui media cetak, elektronik, penyuluhan, buku-buku dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan seseorang sehingga ia akan biasa memperbaiki atau merubah perilakunya menjadi lebih baik.
Menurut piaget (dikutip J.W Luhulima,2001) bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic, artinya proses yang didasarkan atas mekanisme biologi yaitu perkembangan sistem saraf. Dengan makin bertambahnya usia sesorang maka makin kompleslah susunan sel sarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Pada wktu seseorang tumbuh menjadi dewasa maka ia akan mengalami adaptasi biologis dilingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif dan struktur kognitifnya. Apabila seseorang menerima informasi atau pengalaman yang baru maka informasi tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dipunyainya, proses ini disebut asimilasi. Sebaliknya apabila struktur kognitifnya yang harus disesuaikan dengan informasi yang diterima maka hal ini disebut akomodasi.
Berdasarkan penelitian ini menggambarkan bahwa penyuluhan kesehatan kepada penderita dan keluarganya mutlak diperlukan agar penyandang diabetes mempunyai pengetahuan yang cukup tentang diabetes, yang kemudian selanjutnya dapat mengubah perilakunya dan mengendalikan penyakitnya sehingga ia dapat hidup lebih berkualitas.
Dan responden yang mendapat penyuluhan kurang dan taat olahraga yaitu sebanyak 2 responden (25%). Hal ini terjadi karena ada beberapa responden yang berpendidikan tinggi yaitu sebanyak 18 orang (38,3%). Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Abdullah (1997) bahwa yang berpendidikan baik lebih muda menerima ide baru atau mudah menerima pesan dan mudah terjadi pergeseran nilai-nilai karena pendidikan yang baik sangat memegang nilai-nilai lama dibanding yang memiliki nilai kurang. Teori ini diperkuat oleh Royston menyatakan bahwa pendidikan sangat erat kaitannya dengan status kesehatan terutama yang berpendidikan rendah, pendidikan tinggi memegang peranan yang sangat besar untuk memperbaiki masalah kesehatan 24. Sedangkan yang tidak taat 6 responden (75%). Hal ini karena kurangnya sosialisai dan informasi yang didapatkan oleh responden
b.    Hubungan dukungan keluarga dengan ketaatan olahraga pasien diabetes tipe 2
Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 47 responden yang memiliki dukungan keluarga baik dan taat olahraga yaitu sebanyak 36 Responden (100%), sedangkan responden yang memiliki dukungan keluarga baik dan tidak taat sebanyak 0 responden (0%).
Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Bobak (2005) bahwa peran serta keluarga dalam upaya meningkatkan  kesehatan keluarga adalah meliputi upaya untuk meningkatkan kesehatan terhadap masalah kesehatan merupakan tantangan terbesar yang bertujuan membantu keluarga dan masyarakat belajar bagaimana agar bisa sehat dengan cara alamiah
Begitu pula dengan apa yang dikemukakan oleh Keliat (1992) segala bentuk tindakan yang dilakukan untuk melakukan sesuatu terhadap penderita diabetes mellitus, dukungan keluarga ini tidak terlepas dari 5 fungsi perawatan kesehatan keluarga yaitu keluarga nampak mengenal masalah kesehatan, keluarga yang mengalami masalah kesehatan, keluarga yang mampu mengambil keputusan, keluaga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan, keluarga mampu memodifikasi lingkungan, keluarga dalam rangka meningkatkan kesehatan keluarga dan keluarga mampu menggunakan fasilitas yang ada dalam rangka menangani masalah kesehatan yang dihadapi. Pernyataan diatas diperkuat oleh hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Tuela,M,S (2004) mengatakan semakin tinggi dukungan yang diberikan seseorang akan semakin taat, jadi dimana semakin baik dukungan keluarga maka akan semakin taat olahraga.
Sedangkan responden yang memiliki dukungan keluarga kurang dan taat olahraga sebanyak 4 responden (36,4%). Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Meichenbaum dalam Neill,N 25. Mengatakan dukungan dari profesi kesehatan merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi kepatuhan. Dukungan mereka berguna saat pasien menghadapi bahwa perilaku sehat yang baru tersebut merupkan hal yang penting. Begitu juga mereka dapat mempengaruhi perilaku pasien dengan cara menyampaikan antusias mereka terhadap tindakan tertentu dari pasien dan secara terus menerus memberikan penghargaan yang positif bagi pasien telah mampu beradaptasi dengan program yang diberikan oleh petugas kesehatan.
Hal ini disebabkan karena tingginya pengetahuan yang dimiliki oleh penderita begitupula profesi kesehatan merupakan factor lain yang dapat mempengaruhi kepatuhan. Dan yang tidak taat sebanyak 7 responden (63,6%). Hal ini disebabkan karena kurangnya dukungan yang diberikan oleh keluarga.
c.    Hubungan pengetahuan dengan ketaatan olahraga pasien diabetes mellitus tipe 2
Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 47 responden yang memiliki pengetahuan baik dan taat olahraga yaitu sebanyak 38 Responden (97,4%), dan yang tidak taat 1 responden (2,6%).
Berdasarkan hasil analisis tersebut menunjukkan gambaran bahwa ada hubungan pengetahuan dengan ketaatan olahraga pada pasien diabetes mellitus tipe 2, dimana pasien yang tingkat pengetahuannya baik lebih banyak yang taat dibandingkan dengan yang pengetahuannya kurang.
Hasil penelitian ini didukung pendapat yang dikemukakan oleh Azrul yang dikutip Effendi (1997) mengatakan bahwa individu akan sadar, tahu dan mengerti serta mau melaklukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan bila ia memiliki pengetahuan yang baik melalui penyuluhan kesehatan atau upaya sendiri dengan mencari tahu lewat media.
Semakin tahu sesuatu maka seseorang akan lebih mudah termotivasi untuk melakukan hal yang positif untuk dirinya. Pernyataan diatas diperkuat oleh hasil penelitian yang telah dilakukan olah Verra (2005) yang menyebutkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan yang baik akan patuh melaksanakan olahraga dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan kurang. Hal ini sejalan dengan pendapat Roggers (1990)  yang menyatakan bahwa seseorang mempunyai pengetahuan dan kesadaran  akan mendorong orang tersebut berprilaku atau melakukan sesuatu respon.
Dari hasil penelitian yang diperoleh dan pendapat-pendapat yang telah dikemukakan diatas dapat dikatakan bahwa pasien yang pengetahuannya baik akan termotivasi untuk melakukan olahraga, sebaliknya yang pengetahuannya kurang cendrung kurang termotivasi untuk melakukan olahraga. Jika seseorang mengetahui manfaat  sesuatu hal akan membantu seseorang mengembangkan cakrawala berfikirnya yang memudahkan baginya untuk berprilaku sesuai dengan tuntutan nilai-nilai kesehatan dalam hal ini taat dalam olahraga.
Sedangkan responden dengan pengetahuan kurang dan taat olahraga sebanyak 2 responden (25%), dan yang tidak taat 6 responden (75%). Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Feurstein dalam Neil,N (2007) menyatakan bahwa meningkatkan interaksi professional kesehatan dengan pasien adalah suatu hal yang penting untuk memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi tentang diagnosis. Pasien membutuhkan penjelasan terhadap kondisinya saat ini apa penyebabnya dan apa yang dilakukan dengan kondisi seperti itu. Dan yang tidak taat 6 responden (75%), hal ini karena kurangnya pengetahuan dan motivasi yang dimiliki oleh responden.


d.    Hubungan motivasi dengan ketaatan olahraga pasien diabetes mellitus tipe 2
Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 47 responden yang memiliki motivasi tinggi dan taat olahraga yaitu sebanyak 37 Responden (97,4%), dan yang tidak taat 1 responden (2,6%).
Hal ini menunjukkan gambaran bahwa ada hubungan motivasi dengan ketaatan olahraga pada pasien diabetes mellitus tipe 2, dimana pasien yang tingkat motivasinya tinggi  lebih banyak yang taat dibandingkan dengan yang motivasinya rendah.
Motivasi adalah konsep menggambarkan baik kondisi ekstrinsik yang merangsang perilaku manusia. Hal ini sebagai kebutuhan, keinginan, atau dorongan semua manusia hidup mempunyai motivasi.
Demikian halnya dengan pasien diabetes mellitus tipe 2 yang mendapat dorongan baik dari dalam maupun dari luar berupa kemauan dan kesadaran dalam meningkatkan derajat kesehatan termasuk ketatan olahraga. Motivasi pasien DM tipe 2 dalam melakukan olahraga dapat dipengaruhi oleh factor eksternal seperti pengetahuan, dukungan keluarga, penyuluhan atau pelayanan kesehatan dan lain-lain. Hal tersebut dapat diterangkan bahwa seseorang yang mempunyai pengetahuan baik akan melakukan tindakan yang beralasan dimana dia tahu mengapa harus olahraga sehingga motivasinya untuk olahraga menjadi baik.
Untuk mau mengubah perilaku, tentunya seseorang harus mempunyai motif atau tergerak untuk melakukan sesuatu perubahan. Dengan demikian jelaslah bahwa seorang petugas kesehatan selain harus dapat menyampaikan informasi yang benar, juga diharapkan dapat menjadi motivator, yakni orang yang selalu berusaha mempengaruhi sasaran agar sasaran tersebut setuju dan mendukung gagasan yang disampaikan 6 .
Sedangkan responden dengan motivasi rendah dan taat olahraga sebanyak 3 responden (33,3%). Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Dinicola dan Dimateo (1984). Pada dasarnya usaha seseorang dalam mengarahkan daya dan potensinya ditentukan oleh kekuatan tingkat kebutuhan sebagai tingkat motivasinya. Kekuatan motivasi cendrung berkurang jika kepuasan telah tercapai. Seseorang dengan senang hati mengemukakan tujuannya dan mengikuti program pengobatan yang diberikan oleh petugas kesehatan jika ia memiliki keyakinan dan sikap positif terhadap pengobatan yang diberikan dan keluarga serta teman mendukung keyakinan tersebut. Pernyataan-pernyataan yang dipublikasikan dapat meningkatkan kepatuhan seseorang. Kesepakatan apapun yang diharapkan dari pasien harus berasal dari pasien sendiri, paksaan dari tenaga kesehatan hanya akan menghasilkan efek yang negatif. Sedangkan yang memilik motivasi rendah dan tidak taat olahraga sebanyak 6 responden (66,7%). Hal ini disebabkan karena kurangnya dukungan atau motivasi yang diberikan oleh keluarga.


















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
  1. Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa ada hubungan penyuluhan, dukungan keluarga, pengetahuan, motivasi dengan ketaatan olahraga pada klien DM tipe 2 Diunit rawat jalan BPRSUD Labuang Baji Makassar.
  1. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh  dapat diberi beberapa saran :
1.    Bagi instansi terkait dalam hal ini RS Labuang Baji Makassar disarankan mungkin bisa membentuk suatu perhimpunan khusus dibidang edukasi agar supaya bisa memberikan penyuluhan secara kontinyu dan seksama, begitupula bagi pihak pelaksana dibagian struktural Unit rawat jalan poli Endokrin supaya lebih disiplin dan tepat waktu dalam memberikan pemeriksaan dan pengobatan agar penderita bisa lebih taat dalam pengobatan.
2.    Bagi klien diharapkan agar lebih taat dalam olahraga serta selalu mencari tahu perkembangan kesehatannya.
3.    Bagi keluarga agar selalu memberikan dukungan berupa motivasi, mengingatkan waktu olahraga, mendampingi pada saat melakukan pemeriksaan kesehatan, serta selalu mencari tahu perkembangan kesehatan penderita.

4.    Bagi peneliti berikutnya diharapkan melakukan peneltian yang lebih spesifik yaitu “Hubungan keteraturan penyuluhan dengan tingkat kemandirian penderita dalam melakukan pengobatan pada klien yang mengalami diabetes melitus”




















DAFTAR PUSTAKA

  1. Yunir, EM. (2006). Prevalensi Diabetes Diindonesia, OTC digest Edisi 3, Jakarta

  1. Widijanti, A. (2005). Pemeriksaan Laboratorium Penderita DM, Lab Patologii KLInik Dr Saiful Anwar/FK  Unibraw, malang.

  1. Muctar,A. (2008). Terapi untuk diabetes mellitus,  Http/www.who.into.ts/fact/138 HtmL

  1. Sjaidullah, N, et al. (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi 3, EGC, Jakarta

  1. Soegondo, S. et al. (2007).  Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu, FKUI , Jakarta

  1. William F.G. (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 22, penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

  1. Chandrasoma, P. (2005). Ringkasan patolosi Anatomi, edisi 2, EGC, Jakart

  1. Tjokroprawiro, A. (2002). Diabetes Melitus, klasifikasi, diagnosis dan Terapi. Gramedia pustaka utama, Jakarta

  1. Tapan, E. (2005). Penyakit Degeneratif, Gramedia, Jakarta
  2. Smeltzer. S.C, Bare. B.G, (1996). Buku ajar keperawatan Medikal Bedah  Brunner & Suddarth ed 8. Terjemahan H.Y.Kuncara, Andry Hartono, monica Ester,  dkk (2002). EGC. Jakarta

  1. Corwin, E.J, (2000). Buku Saku Patofisiologi, EGC, jakarta

  1. Yulia, MN, (2004). Asuhan Keperawatan dan Perawatan Luka pada klien DM. Makalah disajikan pada seminar nasional keperawatan : tetap sehat bersama kencing manis, menuju INDONESIA SEHAT 2010. diselenggarakan oleh poltekes tidung makassar, makassar.

  1. Warrow, J, (2006). Depresi Pada Penderita DM yang terkontrol dan tidak terkontrol, UNHAS, Makassar.

  1. Asdie, AH. (1996). Olahraga/latihan jasmani sebagai terapi dan bagian kehidupan pada DM, bagian IPD, Edisi 3, FKUI, Jakarta.

  1. Irwanto, (1996). Perilaku Manusia dalam Kehidupan, Arcani, Jakarta.

  1. Bart, S. (1994). Psikologi Kesehatan, Gramedia widiasarana indonesia, Jakarta

  1. Machfoedz,M,S. (2005). Pendidikan kesehatan bagian dari Promosi kesehatan masyarakat, Edisi 2, Fitramajaya, Yogyakarta.

  1. Gibson, J, L, at al. (1996). Organisasi, Jilid 1 edisi bahasa indonesia, Bina rupa aksara

  1. Setiadi, (2007). Konsep & penulisan riset keperawatan. Graha ilmu. Yogjakarta.

  1. Notoatmojo, s. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineke cipta, Jakarta

  1. Hidayat. A.A.A, (2007). Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah ed 2. EGC. Jakarta

  1. Tuela, M,S. (2003). Kepatuhan berobat penderita TB paru, skripsi (tidak diterbitkan) FK. UNHAS, Makassar

  1. Nevel,N. (2002). Psikologi kesehatan, Edisi 2, EGC, Jakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar